SUKA MAKAN DONAT? KETAHUI ASAL USULNYA

Donat salah satu kudapan ringan yang terkenal di Indonesia, makanan yang satu ini banyak orang menyukainya. Makanan yang digoreng ini terbuat dari tepung dan teksturnya pun lembut dan empuk. Agar lebih nikmat, donat diberi banyak varian toping agar rasanya lebih bervariasi.

Asal Usul Donat
Asal usul donat sebenarnya masih menjadi perdebatan. Panganan yang satu ini disebut-sebut sudah ada sejak berabad-abad yang lalu.

Salah satu teori mengatakan jika donat berasal dari Amerika Utara. Tepatnya sekitar tahun 1870, seorang bernama John Blandel mendapatkan hak paten untuk cetakan donat pertama yang mempunyai lubang di tengahnya.

Teori lain merujuk ke negara Belanda, pada awal abad ke-19 Belanda membuat olykoeks yang artinya sebagai “kue minyak”. Donat awalnya hanyalah kue berbentuk bola yang digoreng dengan lemak babi hingga berwarna coklat keemas an. Kue berbentuk bola ini yang biasa diisi dengan buah, kacang, atau isian lain yang tidak perl dimasak, karena bagian tengah kue ini tidak matang secepat bagian luar. Kismis adalah salah satu paduan yang paling sering digunakan sebagai isiannya. Ketika imigran Belanda mulai menetap di Amerika Serikat, tradisi mereka membuat olykoeks terus dilakukan yang kemudian dipengaruhi oleh budaya lain dan terus berinovaasi menjadi donat yang kita kenal saat ini.

Ada teori yang mengatakan donat dengan lubang di tengahnya ini diciptakan oleh kapten kapal asal Denmark yang bernama Hanson Crockett Gregory. Sang kapten sering menyetir kapal dengan kedua belah tangan karena kapal sering dilanda badai. Kue bulat yang dimakan ketika sedang menyetir ini ditusukkannya ke roda kemudi kapal, sehingga kue menjadi bolong.

Setelah Hanson Gregory berhasil membuat konsep awal dari donat tersebut, dia menceritakan dan mengajarkan kepada ibunya yang bernama Elizabeth Gregory. Elizabeth dengan kreatif menambahkan adonan lain berupa rempah seperti kayu manis dan lemon. Pembuatan ini bertujuan agar donat bisa disimpan dan tahan dalam waktu yang Panjang. Karena adonan yang telah dikembangkan oleh Elizabeth dibawa anaknya ke berbagai penjuru negeri selama melaut.

Sejak saat itulah adonan tersebut disebut sebagai “doughnut”. Kata “doughnut” merupakan ejaan tradisional, kemudian berkembang menjadi “donut”.